Perbedaan Pendapat di antara Ulama
Perbedaan pendapat tertuju
kepada kedudukan ahli waris yang bagian warisannya tidak terperinci dalam
Al-Quran maupun As-sunnah. Yaitu, cucu kemenakan, kakek, serta ahli waris yang
derajatnya lebih jauh lagi.
Karena, baik Alquran maupun As-sunnah
tidak merinci secara jelas bagian cucu, kemenakan, kakek, serta ahli waris yang
derajatnya lebih jauh lagi, maka untuk menemukan jalan keluar persoalan bagian
ahli waris yang demikian ini, menggunakan ijtihad
Dalam kepustakaan hukum waris Islam ijtihad untuk menentukan kedudukan cucu dilakukan oleh beberapa ulama saat itu
dengan berbagai perbedaan, di antaranya Zaid bin Tsabit, Tahir Mahmood. dan
Prof. Hazairin.
ijtihad Prof Hazairin mengemukakan hukum
waris berdasarkan sistem bilateral. Sistem ini merupakan sistem kewarisan Islam
di Indonesia, atas ijtihad Profesor Hazairin, yang ditulis dalam buku beliau
yang berjudul Kewarisan Bilateral menurut Quran dan Hadits.
Sesungguhnya perbedaan di antara para
ulama ini sangat bisa dimengerti, berikut penjelasan berdasar proporsi
ketentuan yang mengatur.
Sumber hukum waris Islam yang utama adalah Alquran
khususnya Surat An- Nissa ayat 7,11,12,33 dan176. hanya dengan lima ayat ini,
hampir semua perkara kewarisan menurut hukum Islam terselesaikan.
Sementara Burgerlijk wetboek pun, yang pasal
kewarisannya ada 300 lebih, masih ada perbedaan pendapat di antara para
ahli.
5 Sebab Utama Perbedaan Pendapat
Hazairin (dalam A Rachmad Budiono 2025, hal 40 - 41.)
Pertama, sejak perang Uhud sampai wafatnya
Rasulullah SAW, telah terjadi kurang lebih enam puluh peperangan yang sebagian
besar dipimpin langsung oleh Rasulullah. Akibatnya mengurangi kesempatan
Rasulullah untuk mengawasi pembagian warisan yang setiap tahun semakin
meluas.
Kedua, selama pembentukan negara, perhatian
utama ditujukan pada urusan politik dan ikhtiar untuk menyebarluaskan tauhid
keislaman.
Ketiga, tidak serentaknya Alquran dalam
bidang kewarisan turun. Menyebabkan analisis para ahli hukum mengenai
masalah-masalah yang tidak diatur oleh Alquran menjadi tidak terfokus, sehingga
terjadi banyak perbedaan pendapat.
Keempat, besarnya pengaruh sistem masyarakat
Arab patrilineal terhadap pemikiran para ahli hukumnya, yang menyebabkan mereka
tidak mendalami sepenuhnya sistem bilateral yang dianut oleh Alquran.
Kelima, saat Rasulullah, SAW wafat,
hukum waris Islam baru berjalan kurang lebih enam tahun.
-o-
Komentar